Who Ones Will Be My Sunshine? *STORY*

10 September 2015

Matahari memberikan wajah cerahnya pagi ini. seperti biasanya, hari ini hari jum'at dengan kegiatan sehari-hari sekolah dulu baru les piano nanti jam dua. oia nama aku rifka, aku orangnya lebih kependiam sih. sebenarnya gak pendiam kali cuma tunggu ada timing yang tepat aku bisa gak pendiam. Sejujurnya aku gampang adaptasi dengan lingkungan baru, aku adaptasi dengan lingkungan baru karena aku murid pindahan SMA. Di kelas dua inilah aku pindah. disekolah sebelumnya aku bisa dibilang gak punya temen deket, deket dalam artian saling berbagi, saling mengisi, selalu ada. Mungkin didunia ini hanya bermimpi punya yang begituan. sampai saat ini aku yaa belum punya temen yang nerima aku kaya gitu indahnya. Tapi ada pepatah jepang yang bilang "dari mimpi itulah rencana sebuah cita-cita terwujud" iya sih benar.Untuk pagi ini sekolah aku hadapin dengan kegiatan biasanya yaitu belajar-belajar dan begitulah hidup, pulang deh.

Drrrr drrrr *alarm handphone* sumpah aku telat untuk les kali ini. aku memperbaiki helaian rambut aku yang rusak, mandi ya mandilaah, dandan begitulah cewe. Dengan debu , asap, sinar mentari yang memanasi pipi kiri ku, ku kenakan helm ini. sampai di tempat lesnya. aku ngelihat seorang cowo yang ganteng banget,tinggi, putih, pokoknya tipe aku banget. dia tanpa memberikan senyum simpul, tanpa melihat kebawah ataupun melirik tubuhku yang kecil ini jalan dengan sangat gagah mengadahkan kepalanya. oke aku sadar itu hanya mimpi. aku juga sadar bukan aku yang mengendalikan dunia ku, bahkan ada pemiliknya yang melakukannya, bukankah aku hanya boneka? 

Esok harinya,pastinya hari sabtu. hari dimana ditunggu para siswa, remaja, bahkan orang yang sudah berumur untuk merasakan hidup satu hari tanpa kegiatan sehari-hari. seperti biasa pula, aku yang duduk disebelah jendela yang bertiraikan putih yang ditiupkan sang angin, tepatnya dipinggir sebelah kiri. aku hanya bisa melihat orang yang asik menendang bola dari sana kemari, dari sini kesana. begitulah pandanganku tentang sepakbola. seseorang berkacamata dengan badan tinggi membawa tas dan beberapa buku biologi duduk dimeja guru. beliau datang tak sendirian melainkan berdua dengan seorang??????

What? sumpah? cowo? cowo yang mana dulu ni? cowo yang kemarin sumpah. aku sadar penglihatan ku sudah pudar, sekarang aku menggunakan alat bantu plastik, sebenarnya aku heran mengapa orang bilang benda alat bantu ini kaca mata, padahal aku tak menggunakan kaca. ini hanyalah kaca plastik. terkadang banyak hal yang tak kumengerti dalam hidup ini. back to topic, iya benar diaa yang aku lihat kemarin. sumpaaah ganteng sekaliiii. mataku bahkan diam ditempat memandanginya. tertegun sejenak. ya hanya sejenak. karena teman sebangku ku Rifan mengejutiku dan menertawaiku. tiba-tiba dia mengusir teman yang ada didepan ku,diambil alihnya kursi itu. tanpa disangka "ka, apa gantengnya dia? tinggi? putih? aduh itu memang udah bawaan biologis. keberuntungan aja dapat ibu yang ayah ganteng, coba yang pas-passan ya gak begitu juga tampangnya" "namanya aja pilihan fan fan, ayahnya memilih ibunya, ibunya memilih ayahnya. lahir dah yang begituan perpaduannya hahaha" belakangan ini aku dekat dengan rifan. mungkin dia sering menggodaku kali ya? atau memukul kepala ku? atau juga karena dia teman belakang bangku ku? kalau bicara soal rifan gak ada habis-habisnya. akhir-akhir ini kami dekat sepertinya karena tempat tinggal kami yang lumayan dekat, satu tempat les dan satu teman makan. yap! kami teman makan, yang mana setiap siang aku makannya dengannya terus, selalu begitu.

coba kita kembalikan ke cowo tampan tadi.setelah perkenalan, namanya Andre. berita bagusnya dia duduk disebelah ku. walaupun kursi mejanya gak dempet tapi kan sebelah tetep aja disebelah. itu rasanya seperti naik sepeda sekencang kilat dari jakarta ke singapura. begitu rasanya hebat banget dah. jantung aku juga udah kaya rollercoster kencangnya gak kebayang.

dang ding deng dong*suara bel pulang* hari ini pulang, keliatannya ada kabar gembira lagi nih. Andreee, satu tempat les kami. aduuuuuh gak kebayang senangnya. kakiku sepertinya jalan ditempat, badan ini berat, ku toleh kebelakang rupanya andre menarik tas ku, dan ia mengatakan"eh? kita satu tempat les ya? bareng yok. diluar hujan aku ada payung, bawa payung?" " aaa?apa? hujan? eng enggak, kenapa hujan datangnya tiba-tiba?" dia tak menjawabnya tapi memberikan senyum simpulnya. sebelum aku les, pastinya aku harus berpamitan dengan rifan karena aku pergi dengan andre untuk kali ini ke tempat lesnya, aku juga tak mengerti mengapa aku harus pamitan sama temen kursi belakang ya? oh mungkin supaya dia gak nyari-nyari kali. kita positif thingking aja dulu dengan perasaan ini.

Hujan terus mengguyur kota tercinta ini, dari pulang sekolah sampai pulang les. sama tidak berubah tetap deras. hal ini terulang kembali, ia menarik tas ku. entah mengapa aku benci dimana saat-saat ia menarik tas ku. tak adakah dia sopan santun untuk memanggil namaku? kenapa? aku tak pantas dipanggil dengan nama? aku heran. andre kembali mengajakku pulang, kurasa itu hal yang terdengar bagus. untuk hari ini aku pulang tak sendirian. Satu sekolah kebanyakkan siswanya memilih untuk berjalan kaki pulangnya ataupun menggunakan angkutan umum, begitu pula aku pulang hari ini dengan andre, jalan kaki dengan rinai hujan yang deras. naik busway menikmati dinginnya ac di busway yang sedang berkolaborasi dengan dinginnya hawa hujan. dan jalan kaki kembali.

Matahari kembali memberikan kehangatannya disore ini. andre menuntunku pulang menuju rumah. iya hanya bisa menuntunku tak sampai rumah hanya kira 10 meter dari rumahku. kurasa itu lebih baik daripada sampai menuntun kerumah, nanti pastinya bakal kena tanya ini itu sama orang tua seperti "itu siapa?, cowok kamu? , temen kamu? jangan dekat-dekat sama cowo zaman sekarang" apa sih aku udah 17 tahun aku juga berharap diriku ini baik-baik saja ayah ibu.

Kami berdua terdiam ditengah jalan, ia melihatku sambil tersenyum, kami mengobrol dengan obrolan yang kecil dan tertawa bersama. tiba-tiba ia menarik nafasnya dengan panjang, sangat panjang. aku tak tau masalah apa yang menimpa dirinya untuk mempunyai alasan menarik nafas sepanjang itu. ternyata rifan ada dibelakangku , ia meneriakiku dengan nada yang marah.Aku berlari menghampirinya. kelihatannya rifan kali ini tak banyak omong. dan tiba-tiba dari belakang ada yang....


memelukku


*note:
Untuk memberikan comment:
1. Klik tidak ada komentar atau 1 komentar atau yang ada tulisan komentarnya
2. Ikuti langkah-langkah berikutnya
3 Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar